Senin, 09 April 2018
Senin, 02 April 2018
Mengurangi Apatisme dikalangan Mahasiswa
MENGURANGI
APATISME DIKALANGAN MAHASISWA
Oleh
Ramadani
Mahasiswa
UIN SUSKA Riau
Prodi
Pendidikan Matematika
Mahasiswa
adalah sebuah kata yang banyak menumbuhkan banyak pandangan, namun dari hal
tersebut kita ketahui bersama bahwa mahasiswa terbentuk dari dua kata, yaitu
“maha” dan “siswa”. Jika diartikan secara awam saja maha diartikan “yang” dan
demikian siswa dapat diartikan “pelajar”. Maka dari secara keseluruhan
mahasiswa berarti “yang terpelajar”.
Setiap
mahasiswa yang menginjak dunia kampus mempunyai tujuan masing masing. Dalam hal
ini, apakah mereka ingin menjadi mahasiswa akademik dengan hanya fokus pada
studynya, atau mungkin menjadi mahasiswa yang sibuk dengan organisasi kampus.
Semua hal itu mereka yang menjalani dan masing masing akan ada konsekuensinya,
jadi tidakk ada salahnya. Tetapi sebaiknya ingatlah bahwa niat belajar dikampus
adalah untuk menuntut ilmu dan lulus dengan cepat itulah hal yang diharapkan
oleh semua orangtua.
Mahasiswa
apatis?
Apatis
sering kali kita sebut “masa bodoh” atau tidak peduli. Kemudian kita harus Ketahui
juga penyebabnya, faktor pertama adalah sikap hedonisme atau lebih dikenal dengan
hura-hura. Banyak sekali, khusunya dikalangan mahasiswa ataupun kaum muda yang
senang dengan hal ini. Dan tak di pungkiri juga hal ini dapat mengubah mereka
dari yang kutu buku hingga menyukai kegiatan cliub malam, narkoba atau miras.
Faktor
berikutnya adalah tidak ada insentif sama sekali untuk masuk ke organisasi
mahasiswa. Mereka tidak tertarik untuk masuk karena mereka menganggap ada hal
yang lebih menarik lagi dari kegiatan berorganisasi,misalnya main game, tidur
dirumah dan lain-lain.
Dalam
hal ini untuk mengurangi sifat apatisme dikalangan para mahasiswa adalah:
1. Ajak
mereka untuk bergabung dalam organisasi.
Sebagian
mereka mungkin berpikir ngapain sih ikut organisasi, bikin capek aja, mending
pulang kekos, istirahat. Mungkin mereka tidak memahami pentingnya ikut
organisasi, kalo dilihat dari segi luarnnya saja, memang organisasi itu hal
yang membuat capek, ngurus sana sini, itu bagi orang yang tidak terjun langsung
dalam kegiatan organisasi tersebut, sebenarnya didalam organisasi banyak sekali
hal yang didapat, dan itu tidak akan kita dapatkan dalam pelajaran mata kuliah.
ketika seorang mahasiswa tersebut sudah menyelesaikan studi nya maka saat
mereka terjun ke masyarakat, mereka pasti akan bergorangisasi, sederhana nya
saja, saat mereka sudah berumah tangga, saat itulah mereka secara tidak
langsung sudah masuk dalam organisasi rumah tangga, karena disana mereka akan
saling bekerjasama bagimana membangun rumah tangga yang harmonis. Sel yang
begitu kecil pun melakukan organisasi yang disebut organisasi kehidupan,
sehingga menjadi makhluk hidup.
Dengan
berorganisasi, kita akan dapat menjadikan diri lebih peduli, bisa berbagi,
bekerja dalam tim, dan hal positif lainnya.
2. Jangan
malas mikir.
Yang
dialami generasi muda zaman now adalah malas mikir. Misalnya saja malas
membaca. Apalagi dengan kecanggihan teknologi sekarang membuat para mahasiswa
harus kuat dan mau bekerja membagi waktunya. Para generasi muda harusnya rajin
baca berita, baca koran, rajin nonton berita di tv mengenai hal hal yang
terjadi pada bangsa kita saat ini serta mendiskusikannya, dan hal itu dapat
mengurangi sifat apatisme para generasi muda zaman now.
MEDIA PEMBELAJARAN
MEDIA PEMBELAJARAN
1. Media Audio Visual Gerak
yaitu media instruksioanal modern yang sesuai dengan perkembangan zaman, karena meliputi penglihatan, pendengaran, dan gerakan serta menapilkan unsur gambar bergerak
Contohnya seperti :
film bersuara, pita vdeo, film pada televisi, televisi dan animasi.
2. Proyeksi Audio Visual Diam
yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti :
- film bingkai/ filmastip, yaitu suatu film berukuran 35 mm, yang biasanya dibungkus 2x2 inci terbuat dari karton, atau plastik. sebagai suatu program film bingkai sangat bervariasi . panjang pendek film bingkai, tergantung pada tujuan yang ingin dicapai dan materi yang ingin disajikan.
- film rangkai, merupakan satu kesatuan. ukuran filmnya sama seperti ukuran film bingkai yaitu 35 mm. jumlah gambar satu rol film rangkai antara 50-75 gambar dengan panjang lebih kurang 100-130 cm, tergantung isi film itu.
- slide bersuara, merupakan salah satu contoh dari media pembelajaran yaitu media audio-visual. Djamarah S.B, dkk, (1995:47) menyatakan bahwa : sebagai alat bantu dalam pendidikan dan pengajaran, media audio visual mempunyai sifat sebagai berikut: kemampuan untuk meningkatkan persepsi, kemampuan untuk meningkatkan pengertian, kemampuan untuk meningkatkan transfer belajar. secara lebih spesifik, slide bersuara termasuk dalam media audia visual diam. media audio visual diam adalah media yang penyampain pesannya dapat diterima oleh indra pendengaran dan penglihatan,, akan tetapi gambar yang dihasilkan gambar diam atau memiliki sedikit unsur gerak. jenis media ini dibagi lagi antara lain seperti sound slide, film strip bersuara, dan halaman bersuara.
contohnya : Kaset audio yang dilengkapi bahan tulisan (Anderson dalam solihatin dan suharjo, 2007:26)
DAFTAR PUSTAKA
Sundayana, Rostina. 2016. Media dan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika . Bandung:
ALFABETA.
Andi, Agus. Proyeksi Media Audiavisual.Andikayudhitiya. blogspot.com. diakses pada selasa 3 April 2018 pukul 2.20 Wib.
http://www. google.co,id/search?q=pengertian+audio+cetak&client....../ digilib.unila.ac.id...(pdf) diakses pada selasa 3 April 2018 pukul 2.38 wib.
Langganan:
Postingan (Atom)